Home / Kabar Daerah

Rabu, 5 Oktober 2022 - 21:25 WIB

2 Desa di Boyolali Jadi Pusat Pengujian Surveilans Berbasis Masyarakat

Yadi - Redaksi Jakarta - Penulis

TVDesa – Boyolali : Pemerintah pusat melakukan uji petik atau pengujian surveilans (pengamatan tentang kejadian penyakit atau masalah kesehatan berbasis masyarakat) di Kabupaten Boyolali.

Asisten Deputi Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit, Kemenko PMK, Nancy Dian Anggraeni mengatakan uji petik perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman sukarelawan melakukan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM).

SBM diterapkan sesuai petunjuk teknis yang dirancang oleh kementerian kesehatan.

“Kegiatan ini adalah kegiatan bersama yang membutuhkan dukungan dari tenaga sukarelawan di masyarakat untuk bisa mendeteksi penyakit yang berpotensi menjadi KLB [Kejadian Luar Biasa] atau wabah,” kata Nancy di Desa Siswodipuran, Kecamatan Boyolali, Rabu (5/10/2022).

Kegiatan uji petik SBM bertujuan mendapatkan masukan dari masyarakat terhadap petunjuk teknis yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan bersama dengan mitra.

Hasilnya akan digunakan untuk implementasi SBM di seluruh Indonesia.

Sebagai koordinator SBM, Nancy bersama perwakilan dari beberapa kementerian dan organisasi internasional melakukan uji petik di dua lokasi Boyolali, yakni Desa Siswodipuran dan Desa Sumbung, pada Rabu (5/10/2022).

Menurut Nancy, Surveilans Berbasis Masyarakat diperlukan setelah berkaca pada pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Nancy mencontohkan pengalaman sewaktu pandemi Covid-19 yang dalam waktu singkat kejadiannya bisa menjadi besar karena deteksi dini yang kurang.

“Padahal kalau misalnya kita bisa mengetahui lebih awal. Dengan adanya informasi dari masyarkaat kita, dengan adanya tenaga-tenaga sukarelawan itu. Itu akan bisa kita cegah untuk tidak menjadi KLB, tidak menjadi wabah. Itu sebenarnya tujuan SBM,” ucap dia kepada wartawan.

Baca Juga |  Malam Tahun Baru 2024 Aman Kondusif, Kapolres Kudus Apresiasi Seluruh Masyarakat

Dengan melakukan deteksi secara dini setiap ada ancaman. Kemudian diberikan penanganan responsif secara dini, kata Nancy, ancaman tersebut akhirnya tidak berkembang menjadi KLB atau bahkan menjadi wabah.

Artinya terjadi penghematan ketika setiap ancaman bisa ditangani dengan baik sejak dini, tidak hanya menghemat secara ekonomi.

“Kalau kita alami pandemi Covid-29 ini kan banyak sekali masalah yang diakibatkan karena adanya pembatasan sosial untuk menangani pandemi. Sehingga ekonomi menjadi terganggu, masalah sosial juga terjadi, anak-anak tidak bisa sekolah. Selain itu, yang paling berat adalah kejadian keskakitan dan kematian yang tidak bisa diganti dengan uang,” ucap dia.

Dari rilis yang diterima, pelibatan masyarakat dalam pengendalian wabah, terutama dalam kegiatan pencegahan, pendeteksian, dan respons wabah, dianggap efektif dalam mencegah peningkatan kasus dan membatasi penyebaran penyakit peyebab wabah.

Sejak 2019, melalui Program Kesiapsiagaan Epidemi dan Pandemi (CP3), dengan dukungan dana dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), PMI telah melakukan pelatihan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) dan pendampingan pada Relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) di Boyolali dan beberapa daerah lain di Indonesia.

Baca Juga |  Presiden Resmikan RS Jenderal TNI LB Moerdani di Merauke

Relawan ini dilatih untuk melakukan pengenalan dan verifikasi gejala dan risiko penyakit berpotensi wabah dan zoonosis, untuk selanjutnya dilaporkan untuk ditindaklanjuti oleh puskesmas/puskeswan setempat.

Kabupaten Boyolali menjadi Pilot Project SBM dan sudah berjalan sejak tahun 2020. Sementara, Desa Sumbung Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali merupakan daerah non-pilot project SBM di Jawa Tengah.

Uji Petik SBM difokuskan di Boyolali dengan pelibatan relawan masyarakat, tokoh masyarakat, dan petugas Kesehatan dan Kesehatan hewan.

Ketua PMI, Sunarno mengatakan dalam kegiatan uji petik diadakan diskusi-diskusi antara tim perancang petunjuk teknis dengan sukarelawan yang sudah mengikuti pelatihan sebelumnya.

“Di Desa Siswodipuran ini yang pertama, nanti yang kedua di Desa Sumbung itu masyarakat yang belum mendapatkan pelatihan. Jadi ini nanti menjadi pembanding dari dua masyarakat yang sudah mendapatkan pelatihan dan belum mendapat pelatihan,” ucap dia

Harapan Sunarno, dari hasil dua data pembanding tersebut bisa menghasilkan rancangan petunjuk teknis secara nasional.

Di Boyolali sendiri, terdapat enam desa yang sudah mempunyai SBM, meliputi Desa Karangmojo, Sobokerto, Sumber Agung, Singosari, Banyu Anyar, dan Kelurahan Siswodipuran.

Follow WhatsApp Channel tvdesanews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Berita ini 30 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Kabar Daerah

Hidupkan Kembali Rumah Siti Nurbaya di Depok: Ruang Berkomunitas Budaya Minang

Kabar Daerah

Kepri Bersinar: 57 Desa/Kelurahan Bebas Narkoba

Kabar Daerah

30 Desa di Lembata, Jadi Ajang Mahasiswa Berdaya untuk Kedaulatan Pangan

Kabar Daerah

Semarak Milad IPM Ke-63, PD IPM Kudus Gelar Berbagai Acara Kreatif

Kabar Daerah

Dana Desa Sampang 2024: Kucuran Dana Fantastis untuk Bangun Desa

Kabar Daerah

Percepatan Penanganan Dampak Bencana Sumbar : Misi Gempuran Gubernur Mahyeldi ke BNPB

Kabar Daerah

Jalan Padang Panjang-Sicincin Ruas Lembah Anai Kembali Dibuka, Sistem Buka Tutup diberlakukan

Kabar Daerah

254 Desa di Lombok Timur, Kembangkan Homestay untuk Tingkatkan Kunjungan Wisatawan