TV Desa – Bangli : Desa Wisata Penglipuran yang berlokasi di Kelurahan Kubu, Bangli kembali berencana untuk menggelar festival tentunya dengan mengutamakan prokes Covid-19.
Hal tersebut dibenarkan langsung oleh Ketua Pengelola Desa Wisata Penglipuran, I Nengah Moneng, ketika dihubungi media ini, Jumat (15/10/2021) pagi.
Menurut Moneng, rencana diadakannya festival tahun ini, tidak lain adalah sebagai ajang promosi pariwisata dan edukasi, khususnya setelah Penerbangan internasional menuju bali dari 19 negara, sudah dibuka mulai Kamis (14/10). Di samping itu, festival sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pihak pengelola wisata, terkait penyelenggaraan kegiatan di tengah pandemi Covid-19.
Sementara kata Moneng, festival ke-VIII Desa Penglipuran tahun ini akan digelar secara offline dan juga online yang direncanakan dimulai dari tanggal 7-12 Desember 2021. Disebutkan, festival online meliputi lomba story telling, vlog, dan mesatua Bali.
“Untuk peserta akan melibatkan masyarakat umum. Di samping pelajar,” ungkap Moneng, seraya menginformasikan untuk lomba tari pihaknya masih melakukan diskusi terkait bagaimana jalannya nanti.
Pihaknya juga menegaskan agar nantinya tidak menimbulkan kerumunan jumlah pengunjung akan dibatasi. Pun demikian, dalam pengawasan akan dilibatkan unsur dari pecalang, Satgas Covid-19, dan pihak Kepolisian. Festival Panglipuran, sempat ditiadakan sebelumnya, akibat merebaknya pandemi Covid-19.
Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali menjadi salah satu desa wisata yang menarik bagi wisatawan domestik maupun internasional. Tak hanya itu, desa wisata ini juga pernah menyabet beberapa penghargaan.
Pada 2016 lalu, Desa Penglipuran terpilih sebagai desa terbersih ketiga dunia versi majalah internasional Boombastic. Kemudian di tahun berikutnya, Desa Penglipuran juga pernah mendapat penghargaan ISTA (Indonesia Sustainable Tourism Award) 2017 dengan peringkat terbaik untuk kategori pelestarian budaya. Bahkan, penghargaan terbaru, Desa Penglipuran dan Pemuteran masuk dalam Sustainable Destinations Top 100 versi Green Destinations Foundation.

Menjemput nasib, seperti yang diprediksikan Roland Barthes dalam bukunya, The Death of the Author (1968), yang meramalkan matinya sang pengarang. Memang, pengarang bisa menghadirkan diri lagi—meski “hanya” lewat dunia maya, yakni media sosial di Internet—namun jika itu ditahbiskan, maka praktik kebebasan atau keleluasaan pembaca dalam menafsirkan suatu karya akan pupus.