Home / Opini

Jumat, 25 Agustus 2023 - 20:29 WIB

Mati Suri Di Suku Sendiri : Ketika Wong Jawa ilang Jawane

009 Setiyo Haryono - Penulis

Oleh: Kartini Handayani 

TVDesaNews.id: Menggunakan Bahasa Daerah adalah salah satu cara mencintai Indonesia yang berdirinya tidak lepas dari sejarah unik dari masing- masing daerah.  Maka mencintai Indonesia dapat diwujudkan melalui penggunaan bahasa daerah. Termasuk bahasa Jawa.

Berikut penuturan Kartini Handayani, perempuan pemerhati budaya dan kehidupan masyarakat asal Purworejo yang mengalami satu pengalaman perihal hilangnya budaya Jawa yang sedang terjadi di kalangan masyarakat Jawa Tengah.

Sebuah Pengalaman 

Sore lalu saya tengah antri di klinik gigi. Ada banyak pasien yang antri menanti klinik buka melayani. Terjadi banyak percakapan yang saya cermati. Semua obrolan menggunakan bahasa Indonesia.Tidak ada yang salah memang. Hanya terpana, ini bukan Jakarta. Ini kota kecil di pinggiran Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. 

Bahasa Jawa Adalah Bahasa Ibu

Bahasa Jawa merupakan bahasa ibu untuk wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Bahasa jawa memiliki karakteristik yang mengandung makna sangat adiluhur. Pembelajaran karakter terdapat pada bahasa Jawa. Seharusnya kita tidak perlu terpana dengan attitude anak-anak negara Jepang, karena dari kita bertutur bahasa jawa, ajaran karakter dan attitude itu terajarkan. 

Saat ini terjadi pergeseran budaya bertutur bahasa jawa menjadi bahasa Indonesia dalam keseharian menjadi tren yang terus meningkat. Pada lingkup keluarga sekarang ini, komunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia. Tidak ada lagi sapaan sinten asmane pada anak kecil yang baru pertama kita temui, tetapi sudah berganti menjadi sapaan siapa namanya?

Baca Juga |  BUM Nagari, Antara Badan Hukum dan Profesional

Pudarnya Bahasa Jawa Pada Anak 

Anak- anak saat ini menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi, baik kepada orang tua dan teman sebayanya. Saat saya mendengar percakapan gerombolan remaja laki-laki yang berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa, rasanya senang sekali, berasa merantau di negeri orang terus ketemu orang dalam satu negara. Sebahagia itu rasanya.

Bagi mayoritas masyarakat bahasa Jawa itu sulit karena seolah berkasta. Contohnya, untuk menyebutkan pergi, (ngoko) lungo, (madya) kesah, (kromo) tindak. Padahal kuncinya untuk bahasa jawa adalah meninggikan orang lain. Jadi penggunaan untuk bahasa kromo itu berlaku untuk orang lain, sedangkan untuk diri kita sendiri, menggunakan bahasa ngoko atau madya. Contohnya ketika kita bertanya ke orang lain dimana rumahnya.

Bapak daleme pundi? Sedangkan ketika kita ditanya balik kosakata yang digunakan untuk menjawab dengan kata umah, atau Griyo. Umah kulo Semarang. Atau Griyo kulo Semarang.

Bahasa Adalah Cerminan kepribadian 

Bahasa mampu membentuk karakteristik seseorang secara pemikiran dan perilaku. Ada ungkapan bahasa adalah cermin pribadi seseorang. Saat kita bertutur menggunakan bahasa Jawa yang menjunjung sopan santun pasti berdampak pada perilaku sehari-hari. Kita terpana dengan kesopanan anak-anak Jepang yang membungkukkan badan sebagai tanda terimakasih ketika diberi jalan untuk menyeberang jalan. Kita lupa, ada bahasa Jawa yang mengajarkan itu.

Nderek langkung sambil membungkuk adalah bahasa yang kita gunakan untuk basa basi memohon ijin ketika kita lewat di depan orang lain. Bahkan dalam bahasa jawa, ada perbedaan penggunaan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih sepuh, atau di”sepuhkan”. Bahasa Jawa merupakan bahasa yang mengenalkan nilai-nilai luhur dan sopan santun yang memberi batasan nilai, yang membentuk karakter pribadi seseorang.

Baca Juga |  Lakon Dewi Sriboyong, Meriahkan Bersih Desa Tambakasri ke 112

Minimnya Perhatian Pemerintah Melestarikan Bahasa Jawa 

Pergeseran budaya tutur Jawa ke Bahasa Indonesia semakin parah, manakala Pemerintah dalam hal ini Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/ Kota, menempatkan bahasa Jawa sebagai kurikulum Mulok yang hanya mendapatkan 2 jam setiap minggunya. Diperparah lagi komunikasi di sekolah di luar jam pelajaran, tidak menggunakan bahasa Jawa sebagai pembiasaan.

Keengganan institusi pendidikan formal di Jawa untuk menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi sehari-hari merupakan ironi yang perlu ditangani.

Pemda memiliki kekuasaan untuk mengatasi persoalan ini. Semisal mewajibkan sekolah PAUD dan Sekolah Dasar untuk menggunakan bahasa Jawa sebagai pengantar dan komunikasi sehari- hari. Mengapa demikian, karena usia emas anak-anak akan lebih cepat menerima pembelajaran. Pemda melalui dinas pendidikan harus mulai membuat pelatihan pelatihan yang masif untuk seluruh guru PAUD dan Sekolah Dasar, untuk mempraktekkkan berbicara basa jawa yang benar. Sebab guru-guru pun saat ini sangat tidak mengerti bahasa Jawa.

*Kartini Handayani :seorang aktivis kemasyarakatan, lulusan pesantren Al-amin Pabuaran Purwokerto. Sekarang aktiv di penyelenggara Pemilu kabupaten Purworejo 

Follow WhatsApp Channel tvdesanews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Berita ini 35 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Opini

Desa Lindo: Destinasi Wisata Kuliner Baru di Muna Barat yang Wajib Dikunjungi

Opini

Gamifikasi dalam LMS: Meningkatkan Motivasi dan Engagement Aparatur Desa dalam Pelatihan
Ilustrasi by Ketut Subiyanto | Pexels

Opini

Mengenal Lebih Dekat Metode Baca Cepat dan Manfaatnya dalam Pembelajaran Berbasis LMS

Opini

Tantangan dan Solusi Membangun Desa Tertinggal Melalui Pendampingan Desa

Opini

Pentingnya Sumur Bor Untuk Kebutuhan Air Desa

Opini

Pentingnya TPQ dan Madarasah di Tengah Masyarakat Desa

Opini

BUM Desa Harus Dikelola Dengan Tatakelola yang Baik

Opini

Bergerak Untuk Ummat, Sahabat Da’i Tompobulu Akan Menggelar Konsolidasi