Home / Kabar Pusat

Selasa, 17 Januari 2023 - 18:23 WIB

Menaker: yang Nganggur Kebanyakan di Kota Tapi Kemiskinan Lebih Banyak di Desa

Yadi - Redaksi Jakarta - Penulis

Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah, mengadakan Rapat Kerja bersama para Pejabat Tinggi Madya Kementerian Ketenagakerjaan pada Selasa, (28/6/2022) di Jakarta.

Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah, mengadakan Rapat Kerja bersama para Pejabat Tinggi Madya Kementerian Ketenagakerjaan pada Selasa, (28/6/2022) di Jakarta.

TVDesa – Jakarta : Kabar gembira, angka pengangguran Indonesia sudah turun di akhir 2022 jika dibandingkan dengan kondisi saat pandemi atau di di awal 2020. Pandemi Covid-19 membuat angka penganguran di Indonesia naik ke level 7,2 persen di tahun 2021.

Ida Fauziyah menjelaskan, rasio jumlah pengangguran di Indonesia telah turun menjadi 5,82 persen di 2022.

“Alhamdulillah karena sinergitas yang bisa dibangun, angka pengangguran turun jadi 5,82 persen. Turun memang tapi belum bisa mengembalikan sebagaimana sebelum pandemi (5,2 persen),” kata Ida Fauziyah, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) dalam Rakornas Kepala Daerah dan Forkopimda 2023 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/1/2023).

Baca Juga |  Gus Halim: Sinergikan Data Desa dengan Identitas Kependudukan Digital

Sayangnya, menurut Ida Fauziyah, tingkat pengangguran tersebut dominasi oleh kelompok usia muda yang telah menyelesaikan pendidikan SMA, SMK, Diploma hingga S1. Artinya angkatan kerja yang terserap, adalah mereka yang pendidikannya hanya tamatan SMP ke bawah.

“Ironi yang bekerja adalah saudara-saudara kita yang tingkat pendidikannya SMP ke bawah, sementara yang nganggur didominasi yang tingkat pendidikannya lebih baik SMA, SMK, Diploma dan S1,” papar Ida.

Di sisi lain, jika dilihat berdasarkan wilayah perkotaan dan pedesaan, terjadi paradoks. Kondisinya tidak linear dengan kondisi kemiskinan di pedesaan.

Baca Juga |  Kemendesa PDTT Gandeng PLN Untuk Tingkatkan Produktivitas BUMDesa

“Yang nganggur lebih banyak di kota tapi kemiskinan lebih banyak di desa,” kata Ida.

Hal ini menunjukkan jumlah orang yang bekerja di desa tidak berbanding lurus dengan pendapatannya. Sehingga angka kemiskinannya di pedesaan tetap masih tinggi.

“Jadi yang bekerja di desa tidak berbanding lurus dengan pendapatannya yang baik sehingga angka kemiskinannya tinggi,” pungkasnya.

 

Berita ini 20 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Kabar Pusat

Wamen Paiman : Desa Akan Bergerak Lebih Inovatif dan Kreatif Dengan Transformasi

Kabar Pusat

Sekjen Kemendes PTTT: Transformasi Keuangan Negara Harus Berbasis Digital

Kabar Pusat

Kades Iwan’ Berharap Menteri AHY Prioritaskan Redistribusi Tanah di Desa Kawasan Hutan

Kabar Pusat

BUMDesa Ekspor Anggrek, Gus Halim: Bukti Eksistensi Ekonomi Desa Menguat

Kabar Pusat

Wamendes: Kemendes Komitmen Jaga Persatuan Demi Tercapainya Tujuan Pembangunan

Kabar Pusat

Timor Leste Tertarik Model Pemberdayaan Desa Melalui SDGs Desa

Kabar Pusat

Gus Halim Optimis Tuntaskan RPJMN Bidang Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi di 2024

Kabar Pusat

Tahun 2024, Target Kemendesa Pangkas Jumlah Daerah Tertinggal dan Tingkatkan Rata-rata IPM