Home / Kabar Desa

Kamis, 19 Agustus 2021 - 14:29 WIB

Mengenal Tanaman Porang yang Menjadi Primadona Petani

Yadi - Redaksi Jakarta - Penulis

TV Desa – Klangon : Beberapa waktu belakangan, tanaman porang atau yang sering disebut iles-iles menjadi primadona petani di Tanah Air. Sebelum menjadi tren, porang dianggap sebagai tumbuhan liar di pekarangan rumah.

Untuk diketahui, porang yang memiliki nama latin Amorphophallus muelleri merupakan tanaman penghasil umbi. Berat umbi porang bisa mencapai 5 kilogram (kg) dan dapat diolah untuk dikonsumsi ataupun untuk kebutuhan lain.

Saat ini, banyak petani menanam porang karena dapat menjadi komoditas bernilai tinggi. Terlebih, penanamannya relatif mudah. Porang dapat beradaptasi pada berbagai jenis tanah dengan ketinggian lahan bervariasi, yakni dari 0 hingga 700 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Selain itu, porang dapat ditanam secara tumpang sari dengan toleransi naungan 60 persen. Produktivitas porang tergolong tinggi karena 1 hektare (ha) lahan tanaman itu mampu menghasilkan sekitar 5–10 ton umbi basah sekali panen.

Dengan berbagai kelebihan tersebut, tak heran bila porang unggul dari segi ekonomi. Umbi porang juga bisa dijual dalam berbagai variasi, yakni bentuk basah, irisan kering, tepung, dan glukomanan.

Untuk diketahui, harga umbi porang basah berkisar Rp 4.000–Rp 15.000 per kg. Sementara, bila sudah dikeringkan, harganya mencapai RP 55.000–Rp 65.000 per kg.

Menurut data dari Kementerian Pertanian (Kementan), nilai ekspor porang pada 2020 mencapai Rp 923,6 miliar. Jumlah ini amat menjanjikan untuk menyejahterakan petani atau masyarakat yang membudidayakan porang.

Baca Juga |  Kampus UIN AR-RANIRY Kirim Mahasiswa KPM Ke - Kabupaten Bener Meriah Dengan Tema Bersinergi Membangun Gampong Qur'ani

Selain itu, pasar ekspor porang juga masih luas. Adapun negara tujuan ekspor porang antara lain Jepang, China, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Vietnam, Australia, serta sejumlah negara di Amerika dan Eropa.

Nilai ekonomis porang

Salah satu keunggulan utama porang yang menjadi nilai ekonomis adalah kandungan glukomanan. Sebagai informasi, glukomanan merupakan polisakarida larut dalam air yang dianggap sebagai serat makanan dan dapat dijadikan pengental alami.

Selain sebagai bahan pangan, porang juga dapat diolah menjadi bahan baku beragam kebutuhan, mulai dari pembuat lem, kapsul, pengikat formulasi tablet, pengganti gel, campuran dalam pembuatan kertas, silikon, hingga isolator listrik.

Karena multifungsi, tak heran bila porang dapat dimanfaatkan dalam berbagai industri, mulai dari industri makanan, kecantikan, bahan bangunan, sampai penerbangan.

Porang sebagai sumber ekonomi baru

Menurut Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Suwandi, saat ini ada 20.000 ha lahan di Indonesia yang ditanami porang. Jumlahnya diprediksi akan terus bertambah.

Salah satu lokasi budidaya porang terdapat di Desa Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Kepala Desa (Kades) Klangon Didik Kuswandi menceritakan keberhasilannya dalam menjadikan tepian hutan di desa menjadi sumber ekonomi baru.

Didik yang juga merupakan ketua kelompok dari klaster tani porang binaan Bank Rakyat Indonesia (BRI) melakukan budidaya tanaman porang dan mengembangan potensi ekowisata di Desa Klangon.

Baca Juga |  Wapres Apresiasi Komitmen Kuat Para Kepala Daerah Turunkan Stunting

Didik menceritakan bahwa pada 2005, ia membina sekitar 600 anggota kelompok (klaster) tani porang di atas lahan seluas 100 ha.

“Perlahan tapi pasti, harga jual porang semakin tinggi sehingga menarik minat masyarakat sekitar untuk ikut budidaya tanaman porang,” kata Didik Rabu (18/8/2021).

Didik mengatakan bahwa saat ini, tercatat sebanyak 1.500 masyarakat yang ikut menanam porang dengan area tanam seluas 1.500 ha di Desa Klangon. Menurutnya, peningkatan jumlah anggota kelompok tani porang juga terlihat selama periode tiga tahun terakhir.

Hal tersebut terlihat pada pertumbuhan populasi tanaman porang setiap tahunnya yang mencapai lebih dari 70 persen.

Dengan aset pertanian yang dimiliki kelompoknya, lanjut Didik, ia memiliki visi untuk menjadikan Desa Klangon sebagai ibu kota komoditas porang di Indonesia, bahkan dunia.

Tak hanya itu, ia juga ingin mengembangkan konsep ekowisata di Desa Klangon karena wilayah ini memiliki kekayaan situs dan sejarah.

“Misalnya, dengan mengembangkan beberapa situs sejarah dan wisata lereng Gunung Pandan sehingga dapat menarik wisatawan luar kota. Inovasi tersebut dilakukan untuk memperkenalkan dan meningkatkan ekonomi desa, serta memberdayakan masyarakat desa Klangon supaya lebih sejahtera,” kata Didik.

Berita ini 46 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Kabar Desa

Rayakan Idul Fitri, Warga Dusun Pegundalan Pejawaran Banjarnegara Gelar Makan Bersama

Kabar Desa

Arus Mudik Di Perbatasan Nganjuk -JombangTerpantau Lancar Meskipun Dipenuhi Takbir Keliling

Kabar Desa

Pemdes Oehan Kembali Salurkan BLT KPM Lansia dan Disabilitas

Kabar Desa

Door to Door Pemdes Pulau Rajak Salurkan BLT DD Tahap Pertama TA 2024

Kabar Desa

“Pecah Telur” Desa Se Kecamatan Kedondong Sudah Salurkan BLT DD

Kabar Desa

Penjaringan Aspirasi Masyarakat Dusun Podomoro Pekon Negri Agung Anggota DPRD Kabupaten Tanggamus Fraksi PDI-P Wahyu Agus Fediawan B,Bus

Kabar Desa

Camat Kedondong : 10 dari 12 Desa Sudah Salurkan BLT DD Triwulan 1

Kabar Desa

Tingkatkan Gizi Masyarakat, Pemdes Gunung Sugih Realisasikan Program Ketahanan Pangan Hewani