Home / Opini

Kamis, 7 Oktober 2021 - 01:20 WIB

Peristiwa Budaya, Bermain Layangan: Mengenang Hari Batik Indonesia, Kemendes PDTT

Mulyadi Putra - Penulis

TV Desa – Sumatera Barat : Benarkah bermain layangan hanya sebatas candu dan olah raga, atau peurai penat dalam penyegaran mental dari rutinitas sehari-hari? Jauhnya mari kita lirik uraian di bawah ini.

Sejarah Layang-Layang       

Staf Museum Layang-Layang Indonesia, Asep Irawan mengatakan, bahwa layang-layang paling kuno berasal dari Muna, Sulawesi Tenggara (bukan dari Cina! Jika berbicara populernya, memang dimulai dari sana. Yakni hampir 3.000 tahun lalu). Dahulu, untuk mencari Tuhan dengan menerbangkan layang-layang. Bukti ini masih bisa dilihat pada gambar yang ada dalam goa, menggunakan darah dan getah tanaman berwarna kecoklatan. Tepatnya di Goa Sugi Patani, Desa Liang Kabori, Pulau Muna, (Kompas.com 30/9/2020).

Layangan dibuat masyarakat di Pulau ini menggunakan bahan dasar alami, seperti daun Kolope (Gadung) yang dikeringkan, dan pada bagian ujung-ujungnya dipotong. Kemudian satu persatu disulam dengan menggunakan lidi yang terbuat dari bambu, dan talinya dari serat nanas hutan yang banyak ditemukan di pulau tersebut, (Menara62.com)

Baca Juga |  Mengenal SDGs
Batman, salah satu layangan yang ikut memeriahkan Hari Batik Nasional
Memperingati Hari Batik Nasional

Manfaat Bermain Layangan
Selain di atas, bermain layangan juga melatih kesabaran. Tanpa itu, kita belum bisa dikategorikan sebagai ‘jokinya’. Lantaran di dalam proses bermainnya, kesabaran adalah kunci utama.
Kesabaran ini dimulai saat membuat layangan; memilih bambu, menimbang, mengukur, meraut dan memilih warna kertas serta memasang tali goci. Selanjutnya proses penerbangannya. Apakah sudah sesuai dengan keinginan atau belum? Jika ya, di sinilah letak kepuasannya. Jika tidak, kembalilah bersabar!
Terakhir, situasi ‘pelik’ akan kita hadapi apabila menerbangkan layangan di tempat umum. Misal, tali saling bersilang. Oleh karenanya tak jarang mengakibatkan satu di atara sekian tali layangan akan terputus.
Apabila penggal akhir berlaku, maka rasa kebersamaan dan suka duka akan tercipta/toleransi tanpa emosi. Sebaliknya jangan terjun ke gelanggang.

Baca Juga |  Gus Halim Resmikan Gedung BUMDesma Hasil Transformasi UPK

Nah, dalam konteks itulah kiranya Kemendesa PDTT menyelam sambil minum air (memperingati Hari Batik Nasional dengan Bermain Layangan) telah membuktikan, bahwa bermain layangan tidaklah semudah mata memandang. Buktinya TTP Indonesia, khususnya Pasaman telah melakoninya. Tepatnya setahun nan lalu.

Berita ini 262 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Opini

Jelang Idul Fitri, Pemdes Babakan Loa Realisasikan Program Ketahanan Pangan

Kabar Daerah

Romo Eman Berkati Para Pemeran Tablo, Jalan Salib Dari Sekar St.Yohanes Pemandi Naesleu

Opini

Setelah Kongres Desa, RUU Desa Disahkan Menjadi UU

Opini

Pegiat Desa Ini Desak Jokowi Evaluasi Kebijakan Kemendes PDTT
Visual Aparatur Desa

Opini

7 Langkah Membuat Pengalaman Belajar Online yang Menarik bagi Aparatur Desa melalui LMS

Opini

Praktek Serangan Fajar dan Jual Beli Suara Merusak Demokrasi di Kabupaten Bone Bolango.

Opini

Sosialisasi Empat Pilar Masyarakat Minta DPD-RI Bisa Bersuara Untuk Daerah

Opini

Peran Kepala Suku Dalam Meningkatkan Partisipasi Politik Masyarakat Di Distrik Moskona Utara Kabupaten Teluk Bintuni