Home / Profil

Sabtu, 30 Oktober 2021 - 19:41 WIB

Senyum Warga Sambak Berkat Limbah Tahu

#Dian Purnama Putra - Penulis

TV Desa – Magelang : Kebutuhan dapur rumah tangga Nasi’atul Fitrah (53), warga Dusun Sindon, Desa Sambak, selama enam bulan terakhir, sudah semakin ringan.

“Sudah setengah tahun ini (pakai biogas). Ya lebih ringan (biayanya) dari gas biasa. Sebelumnya kita habis 6-7 tabung sebulan, kalau ditotal bisa sekitar Rp 120.000. Sekarang hanya Rp 15.000 sebulan,” ungkap Nasi’atul kepada wartawan, Jumat (29/10/2021).

Ada sekitar 65 Kepala Keluarga (KK) di desa tersebut yang sudah beralih ke biogas untuk keperluan memasak sehari-hari. Menurut pemaparan Nasi’atul, penggunaan biogas tidak hanya lebih ekonomis tapi juga ramah lingkungan dan aman. Api yang hasilkan juga stabil, nyaris sama dengan api yang dihasilkan dari elpiji.

Kepala Desa Sambak, Dahlan (55) menjelaskan, inovasi energi ini berawal dari keprihatinan melihat limbah cair yang dihasilkan 14 pabrik-pabrik tahu di desa berudara sejuk di kaki Gunung Sumbing itu. Limbah itu dibuang begitu saja sehingga mencemari sungai, merusak tanah, tanaman, bahkan tidak sedikit hewan peliharaan yang mati akibat minum air atau makan tumbuhan yang tercemar limbah.

Baca Juga |  Program CSR PT PLN Indonesia Power Sub Unit PLTA Jelok

“Kami merasa, tergugah untuk ikut menjaga kelestarian alam. Dengan limbah yang tidak dikelola ini jelas akan mencemari lingkungan, merusak tanah, hewan-hewan peliharaan pada mati, tanaman juga tidak bisa keluar dengan maksimal. Dengan dikelolanya limbah menjadi biogas ini, air keluar sudah netral,” ungkap Dahlan, pria asal Temanggung, Jawa Tengah, itu.

Inisiasi tersebut, kisah Dahlan, dimulai tahun 2014 saat pemdes mengajukan proposal pengadaan Digester (unit pengolah biogas) dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) secara komunal ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Tengah. Setelah terealisasi pada 2015, digester langsung berfungsi mengolah limbah menjadi biogas dan mampu melayani 17 KK. Sedangkan, IPAL digunakan untuk mengelola limbah cair pabrik tahu menjadi netral sehingga aman ketika dibuang ke lingkungan.

Tahun berikutnya, lanjut Dahlan, pengadaan digester ditambah menggunakan anggaran Pemerintah Desa Sambak dan Pemerintah Kabupaten Magelang. Sampai saat ini ada 5 unit digester yang tersebar di Dusun Sindon (3 unit), Dusun Miriombo dan Balai Desa Sambak masing-masing 1 unit. Sedangkan IPAL sudah dimiliki 3 unit.

Baca Juga |  Destinasi PLTA Tertua di Indonesia Ini Ternyata Masih Perkasa

“Warga yang tinggal di sekitar digester sampai radius 350 meter sudah bisa pakai biogas yang dihasilkan oleh digester itu, disalurkan pakai pipa paralon, kemudian disambungkan ke kompor. Relatif lebih murah dan aman,” terang Dahlan.

Penggunaan biogas ini kemudian dikelola secara swadaya dalam satu kepengurusan. Iuran yang dihimpun dari pengguna dipakai untuk biaya perawatan jaringan instalasi biogas. Di desa ini juga ada tenaga atau teknisi khusus memperbaiki digester jika terjadi kerusakan.

Follow WhatsApp Channel tvdesanews.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Berita ini 181 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Profil

Boen Hian Tong Semarang: Rumah Keberagaman dan Pelestarian Budaya Tionghoa Sejak 1876

Profil

Gantangan Burung Kicau Joko Sambang: Wadah Pecinta Burung Kicau di Jombang

Profil

Desa Sabatang, Halmahera Selatan: Antara Tragedi dan Potensi Wisata Tersembunyi

Profil

Rizky Rendyana Firmansyah: Kepala Desa Termuda Blitar dengan Segudang Potensi

Profil

Inspiratif ! DeLiang Bocah SD Asal Trenggalek Berhasil Menulis 40 Novel Dalam Bahasa Inggris

Profil

Desa Sukoanyar Sabet Predikat Desa Mandiri, Bukti Kolaborasi yang Sukses

Profil

Batu Atola Jadi Surga Pecinta Durian di Nias Selatan

Profil

Viral! Bos Bakso Malang Sulap Jalan Desa Jadi Mulus dengan Dana Pribadi