Home / Opini

Kamis, 15 September 2022 - 20:43 WIB

Warong Wo Lidya (part1) : Kopi Pemberdayaan Desa

RF Admin - Penulis

Di sebuah kota nan sejuk dan damai. Wo Lidya memiliki sebuah warong yang tak jauh dari pusat kota. Disitu ia menjual gorengan, kopi dan beberapa makanan ringan lainnya.

Disitu pula tempat para pegiat desa berkumpul, untuk sekedar minum kopi dan bertukar informasi kegiatan tentang desa.

Matt Sebakom paling rajin ngopi disitu, sebab sepulang dari lokasi tugas, rumahnya melewati warong itu.

Ia kerap mendapatkan informasi-informasi terkini secara senyap dan terstruktur. Ia seperti mempunyai informan ditubuh organisasi pegiat desa itu.

Organisasi itu bernama Perkumpulan Pegiat Desa Terkini, biasa disebut PPDT.

Hanya butuh beberapa menit dari peristiwa, Matt Sebakom sudah tau kejadiannya. Namun ia santai, cuek dan tak peduli.

Saat Matt Sebakom asyik ngopi di Warong Wo Lidya datanglah Kiyai Anom yang nampak kusam, kecut dan tak enak di pandang.

Pasalnya ia kerap di sikut rekan-rekannya dari daerah lain yang menginginkan lokasinya.

“Kiyai ngapa jidat mu ngerut, muka mu kusam dan lesu, sungguh tak enak dipandang?” tanya Wo Lidya setibanya Kiyai Anom di warong itu.

Baca Juga |  Pencalonan Kepala Desa Untuk Natuna

“Pusing wo, di organisasi PPDT ini, setiap ada isu Mutasi dan Akhir Tahun, ada aja kawan yang nyikut” jawab Kiyai sambil duduk di kursi warong itu.

Kiyai lantas memesan kopi sambil menghisap rokok mariboro merah. Hisapan kaum millenial muda dengan tarikan yang begitu melesat.

“Biasa aja geh ngerokoknya, mutasi itu biasa” Timpa Matt Sebakom yang lebih dulu datang di Warong Wo Lidya.

“Betul Matt mutasi itu biasa, ada pertimbangan boss-boss, apalagi kita bukan orang yang sampoerna, kekurangan itu yang kerap dipakai buat nyikut, gak enaknya disitu, kayak yang lain gak ada kurangnya aja.” jawab Kiyai Anom dengan cekatan.

Wo Lidya terdiam membisu, di fikirannya melayang-layang sebuah pertanyaan, apakah sudah separah ini yang terjadi pada pegiat desa.

Ia membayangkan khitah perjuangan pelaku pemberdayaan dulu, yang sudah sesuai dengan kredo pemberdayaan. Saat ini sudah jauh menyimpang, jauh panggang dari api.

Apalagi ia mendengar dari orang lain, di organisasi ini sudah ada bau pelitik-peliitikknya. Miris dalam hati Wo.

Baca Juga |  Warong Wo Lidya (part3) : Modal Pelitik Jadi Komandan

Dalam lamunan Wo Lidya, tiba-tiba Mat Sebakom mengetuk meja, membuyarkan fikiran yang sedang melayang-layang.

“Uuiii cetuk… Hahahaaaa” Mat Sebakom dan Kiyai Anom tertawa. Ketawanya yang keras, di tatap Wo Lidya dengan senyum kecut.

Mereka berdua lantas asyik ngopi, makan gorengan, dan berbincang santai. Sesekali menatap handphone buatan china yang mereka miliki. Khawatir dengan kebiasaan atasan yang rutin minta data lewat Group Whatsapp.

Disela-sela itu, Matt Sebakom berpesan kepada Kyai Anom.

“Hidup ini sesaat kawan, hidup aja sesaat apalagi kegiatan kita ini, sesaat banget karena kita hanya pegiat. You slow aja, kalau santai bacalah buku judulnya di olah kawan, karya jurnalis senior di negeri ini” (Bersambung Part 2).

“Cerpen ini adalah fiktif belaka, Cerpen perdana penulis untuk sekedar mengisi waktu luang, jika ada kesamaan nama, tokoh, peristiwa maupun kejadian, itu hanyalah kebetulan, dan kami mohon maaf. Yang baca juga jangan baperan, hehee..”

Berita ini 39 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Opini

Mengajak Gen Z untuk Mendata SDGs Desa

Opini

Pemdes Sri Kembang Salurkan BLT-DD Tahap II TA 2022

Opini

Sekali Lagi: Lembaga Perkreditan Desa (I)

Opini

Jadi Penggiat Desa? Teruslah Bergerak dan Jangan Pernah Menyerah
Menyimak Perjalanan Desa Sejak

Opini

Menyimak Perjalanan Desa Sejak Berlakunya UU No. 6 Tahun 2014 ā€“ (Bagian ke-2/5)

Opini

Mau Tahu Kode Etik Jurnalistik ? Simak Penjelasan Ini

Opini

Cerita Warga Ende Didatangi Presiden Jokowi Malam Hari, Kaget Hingga Terharu

Opini

Budaya Ronda Malam Ditengah Hiruk Pikuk Perkembangan Zaman