Home / Opini

Senin, 19 September 2022 - 15:59 WIB

Warong Wo Lidya (part2) : Sengkarut Bagi Kicut

RF Admin - Penulis

Di hari-hari berikutnya, Warong Wo Lidya terlihat nampak sepi. Warong di dekat tugu pusat kota itu tak seperti biasanya, rame dan menjadi rujukan para pecinta kopi robusta.

Matt Sebakom yang biasanya mampir di warong itu, setelah pulang dari daerah lokasi tugasnya, pun tak nampak minum kopi disitu.

Wo Lidya curiga dan bertanya-tanya, ada apa dengan para pegiat desa yang tak nampak seperti biasanya di warong ini.

“Aneh sekali, biasanya rame yang ngopi, ini nampak lengang, jualan gorengan pun harus tersisa dan dibawa pulang” keluh Wo Lidya dalam hati.

Tak lama berselang, munculah Dull Tiyung, pegiat desa dari daerah kebun gula.

Bagi warga kebun gula, Dull Tiyung adalah pegiat desa yang bekerja tanpa pamrih, ikhlas tak pernah meminta balas budi.

Apalagi minta-minta amplop saat kunjungan, itu buka type Dull Tiyung.

Saat Dull Tiyung tiba di Warong, Wo Lidya nampak kegirangan, baginya kehadiran Dull Tiyung akan membawa barokah bagi dagangannya yang telah lama sepi.

“Uiiii… Dull Tiyung…!!! syukur kamu datang, dagangan ku sepi, jarang pembeli, apalagi para pegiat desa akhir2 ini tak nampak batang lehernya” ucap Wo Lidya menyambut kedatangan Dull Tiyung.

Baca Juga |  Perlu Intelektual Pulang Kampung, Bangun SDGs Desa

Dull Tiyung lantas duduk dan bercerita tentang masalah pegiat desa di organisasi PPDT (Perkumpulan Pegiat Desa Terkini). Namun sebelumnya ia memesan kopi terlebih dahulu.

“Wo, saya pesan kopi robusta yang kental, hitam di kasih gula merah, kayak kebiasaan mamak edo, kupi gula anaw.” ucap Dull Tiyung kepada Wo Lidya.

Dull tiyung lanjut bercerita, ia mengatakan bahwa sejak munculnya pengaturan baru, para penegak pengaturan membuat posisi pegiat desa menjadi sengkarut, siapa mengerjakan apa, tidak begitu jelas di lapangan.

Yang ada di daerah lokasi tugas, pegiat desa umum-umum saja, beda dengan pengaturan lama, yang sudah jelas spek-speknya.

Belum lagi menurut Dull Tiyung, setiap selesai kegiatan, baginya pun kicut alias enggak rata.

“Umumnya setiap kegiatan, kita bantu sama2, tapi begitu selesai, kadang hasilnya gak sama2, alias kicut. Inilah yang buat disharmoni pegiat desa” ungkap Dull Tiyung pada Wo Lidya.

“Parahnya lagi ada yang pakai persen, ada lobi2 persentase sebelum bekerja. Itu dilakukan secara diam2, teman tak tahu, apalagi bos2” lanjut Dull Tiyung pada Wo Lidya.

Dull Tiyung meminta wo lidya tutup mulut rapat2, baginya ini membahayakan.

Baca Juga |  Warong Wo Lidya (part3) : Modal Pelitik Jadi Komandan

Membocorkan rahasia organisasinya, bisa mengancam keselamatan, apalagi konon katanya tembok pun bisa ngomong di organisasi PPDT ini.

Wo Lidya hanya terdiam membisu, tak berdaya. Tak kuat mendengar ini semua.

Dia hanyalah penjual kopi dan gorengan semata.

“Benar2 sengkarut bagi kicut keadaan ini” bisik dalam hati wo lidya.

Namun di lubuk hatinya, ia sedih. Sebab Wo Lidya adalah pensiunan pegiat desa sejak 20 tahun yang lalu.

Baginya ini bukan hanya persoalan Warong kopinya yang akhir2 ini sepi, tapi lebih kepada disharmoni para pegiat.

Ia berniat memberi kuliah kepada pegiat desa yang ngopi di warong miliknya.

Ia yakin, dengan mengkuliahi satu persatu para pegiat desa, persoalan seperti ini akan selesai dan teratasi.

Meski Wo Lidya bukan siapa-siapa, tapi iya yakin kata-katanya nanti akan ada apa-apanya, dan bisa menyelesaikan ini semua.

(bersambung part 3).

“Cerpen ini adalah fiktif belaka, hanya sekedar mengisi waktu luang, jika ada kesamaan nama, tokoh, peristiwa maupun kejadian, itu hanyalah kebetulan, dan kami mohon maaf, yang baca juga jangan baperan, hehee..”

Berita ini 28 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Opini

Hari Raya Nyepi, Pengembangan Sumber Daya Manusia dan SDGs Desa

Opini

Catatan Sarapan SGDs Eps 343 “Tiada Kekerasan Simbolik dalam Pendataan Desa”

Opini

Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Melalui Program CSR dari Perusahaan

Opini

Pemerintah Kecamatan Suro Makmur Gelar Musrenbang Tahun 2023

Opini

Murid Paud di Bangil Ikuti Acara Perkemahan

Opini

Tanaman Porang Salah Satu Solusi Peningkatan Ekonomi

Opini

Mau Tahu Kode Etik Jurnalistik ? Simak Penjelasan Ini

Opini

Makna Hidup dan Citra Diri